Sabtu, 27 Oktober 2018

3 Syarat Kompetensi Menjadi Kiai

Di suatu kesempatan ngopi bersama teman² se-almamater. Kami sempat membanyol perihal peran Kiai, konon syarat jadi Kiai ada 3 kompetensi. Pertama: alim kitab turats, kedua: nyuwuk, dan terakhir: mbanyol (berkelakar/berhumor). 

Faktanya di antara kami ada yang memang tahu dan paham banyak ilmu² disiplin-katakanlah alim, faqiih watafaqquh fiddin, lalu salah satu di antara kami mengusulkan kepadanya supaya menjadi Kiai. Sebab ia telah mengantongi syarat pertama itu. Tapi ia menolak, "menjadi Kiai itu berat, tanggung jawab dunia-akhirat" tukasnya. Selanjutnya kami melirik pada teman yg suka tirakat, riyadhoh dzahiriah wa batiniah-nya Masya Allah. Andai kami memiliki hajat, menyelesaikan suatu permasalahan lalu memintanya untuk melakukan tirakat sbg pelantara terbukanya salah satu pintu kemudahan pasti ia akan melaksanakannya. Tirakat apapun, puasa? Selama apapun itu hal kecil baginya. Tidak meludah ke bumi? Ia juga siap, asalkan kami selalu berada di dekatnya selama 24 jam, siap mewadahi ludahnya di kresek. Namun ia menolak juga sebelum kami mengkadidatnya dengan alasan, "Jelas kentara perbedaan antara Dukun dengan Kiai. Kalau seumpama saya menjadi Kiai sudah pastilah saya menistakan identitas luhur nan mulia semua Kiai, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat."



Pada titik tersebut, saya dengan optimis menawarkan diri. "Bagaimana kalau saya saja. Jika sekadar berkelakar saya bisa. Untuk syarat² yang lain kan masih bisa menyusul." Mereka diam seribu bahasa. Arkian teman kami yang merasa tidak mengantongi 3 syarat tersebut menyeletuk dengan bahasa diplomatis, "Emm K-I-A-I ya?... Si fulan ini alim, jadi dengan kapasitasnya ia pantas dipanggil "KI"; orang yang kita muliakan karena keilmuannya. Sedangkan si fulan ahli tirakat, cocoklogi saja, ia pantas disebut "KIA", menjahit sesuatu yang robek dari kita. Sedangkan ente? Cuma modal berkelakar, mbanyol, syarat paling akhir kan?. Berarti pantasnya dipanggil AI. Biar penyebutannya kamil; sempurna mungkin lebih afdal kita panggil TAI..."

Syahdan semua terbahak-bahak, saya benar-benar merasa seperti kotoran yg wajib dihina. Meski dalam benak ada keinginan membantah. Bahwa dalam sistem ilmu pengetahuan alam, tai masih bisa berguna, menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman. Tapi nurani saya berbisik, "Optimis pada posisi krusial seperti itu, justru malah membahayakan diri sendiri dan orang lain."