Senin, 14 Mei 2018

Refleksi Sosial

Ada yang tetap memusatkan perhatiannya terhadap nasib negara Palestina, ada yang sangat memerhatikan peristiwa biadab; teror bom yang marak hari-hari ini, ada yang memantau sikap ke sewenang-wenangan birokrasi dan sebagian oknum pemerintah, ada yang tak henti-henti mengingatkan supaya mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Bapak Novel Baswedan, dan masih banyak lagi perhatian masyarakat terhadap peristiwa atau kasus-kasus tertentu. Pasti mereka memiliki alasan dan sesuai kadar kemampuan masing-masing.
sumber ilustrasi : https://www.vectorstock.com

Lantas mengapa masih ada yang saling tuding, saling menyalahkan?.

Si A dianggap 'anti-toleran' karena tampak tidak 'koar-koar' mengutuk (dengan kata-kata kotor). Si B dicuragai sebagai sekutu teroris lantaran berpendapat yang arahnya tidak sesuai pemberitaan media-media mainstream. Si C dicemooh sebagai hiporkit oleh sesamanya dikarenakan hanya lantang bersuara di saat saudara tidak seakidahnya menjadi korban. Si E muak, ia menyalahkan Si A, Si B, Si C; semua ia salahkan sebab ia sadar seumpama ia menasihati salah satu di antara mereka (yang pada dasarnya keras kepala) maka hanya akan memantik persoalan pelik lain.

Tapi saya yakin, setelah menyaksikan reaksi atau sikap semua lapisan masyarakat (dari pelbagai elemen) apapun agamanya; semua mengutuk keras lakuan terorisme. Walapun kadar perhatian masyarakat tak semuanya sama, saya yakin semuanya pasti merasa iba terhadap nasib korban dan keluarga korban. Semua pasti berharap dan mendoakan baik, tak lain lantaran kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Sedangkan terorisme adalah musuh bagi kemanusian.

Dr. Abdurahman Efendi Ismail menulis nasihat tentang humanisme (kemanusiaan) dalam karangannya; kitab At-Tarbiyah Wal Adabus Syar'iyah,

"Ketika kau menyaksikan mereka (saudara kemanusiaan) tertimpa bahaya atau mengalami kejadian menyakitkan maka sudah dipastikan akan ada yang mencelanya dan turut merasa sakit atau iba. Kau berada di antara ke duanya, menengahi mereka, dan tetaplah berupaya menyatu dengan mereka. Oleh karena itu kau harus (wajib) berbuat baik untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka, sebagaimana kau sendiri pun tak suka bila tertimpa mara bahaya."

Wallahu 'A'lam Bis Showab...

Kamis, 04 Januari 2018

Sebuah Impian Fotografis


Saya pernah salah memandang konsep seni fotografi, saya juga pernah tergiur oleh rayuan kemaruk fotografi yang bersumber dari mata dan cahaya orang-orang Barat. Saya berasumsi, bagi mereka ekses fotografi adalah sebuah medium kebebasan. Ekses fotografi adalah metaseni yang mampu menembus segala dinding setiap aturan dan 'sesuatu' yang dianggap tabu. 

Sejak awal kali meminati dunia fotografi sampai tiba saat mempraktikannya saya selalu dilanda perasaan waswas. Bagaimana mungkin menyaksikan sebuah adegan yang menampilkan lakuan hewani dengan bantuan cahaya yang begitu silau di dalam potongan waktu itu disebut keindahan fotografi?. 

Saat menatap hasil potret itu mata saya seperti kelilipan nanah. Benar, ada yang salah dari cara pandang fotografi saya. 

Mengingat nama seorang ulama', saintis muslim, Ibnu Al-Haitham, Sang Bapak Optik. Apa iya beliau menyepakati konsep fotografi model demikian?. Jelas, mana mungkin seorang ulama' mengesahkan perkara batil (amoral). 

Sekali lagi, saya mencari nama-nama pemotret muslim untuk menyembuhkan perasaan waswas saya. Lalu saya berhasil menemukan beberapa nama salah satu di antaranya adalah Peter Sanders, beliau Raja Fotografi; seorang pemotret internasional yang mualaf. Saya amati setiap karyanya, dan ternyata benar. 

Konsep fotografi tidak seribet dan sesuai standar pola pandang pemotret orang-orang Barat yang sangat jauh dari nilai-nilai keindahan secara hakikatnya. 

Dengan menggunakan kacamata ilmu filsafat Islam merujuk pada teori Syed Naquib Al-Attas (Sang Neo-Ghazalian), saya menekankan kepada diri saya sendiri. 

Di dalam ekses fotografi, (pandangan) mata adalah nomor satu, nomor selanjutnya adalah cahaya. Karena fotografi tidak akan tercipta tanpa adanya mata yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Melihat kepada para hamba yang pemotret.


Saya berandai-andai suatu saat saya akan menyaksikan sebuah mahakarya foto yang diciptakan oleh seorang pengamal kitab Sullam Taufiq. Kitab yang berisikan tuntunan sangat indah, salah satu babnya berisikan nasihat serta cara menjaga mata daripada pemandangan-pemandangan yang tak layak dipandang (maksiat). 

Wallahu ‘a’lam Bis Showab 


Kamis, 14 Desember 2017

Cerita Seorang Pengecut


Aku ingin bercerita kepadamu dengan caraku sendiri. Cara seorang pengecut menceritakan rasa ketakutakannya kepada seseorang yang telah membuatnya menjadi lelaki pemberani.

Aku ingin bercerita tidak seperti cara Qais yang menceritakan keberan
iannya melalui syair-syair yang ia gemakan ke atap langit hingga sampai ke sukma Laila.

Aku ingin bercerita kepadamu dengan caraku sendiri. Cara daun kering gugur yang menceritakan kepasrahannya kepada buah yang telah membuatnya menjadi berarti.

Aku ingin bercerita tidak seperti cara Yusuf Alaihissalam yang menceritakan keberaniannya melalui mukjizat yang ia tampakkan hingga sampai ke relung kalbu Zulaikha.

Aku ingin bercerita kepadamu dengan caraku sendiri, bahwa ceritaku tak mewakili cerita para pengecut serta dedaunan gugur yang telah melebur menjadi debu.

Aku ingin bercerita kepadamu tentang seorang pengecut yang suka menceritakan orang-orang pemberani.