Sabtu, 30 Agustus 2014

Fiksi Mini #26

- Siapa Pemimpinku? –
Sang saka dikibarkan, pertanda bangsa ini sudah merdeka.
“Tapi siapa pemimpinku?”, tanya indonesia

- BBM; Bahan Bakar Manusia –
Selain makanan pokok, listrik dan internet.
Ternyata masih ada masih ada sumber daya lain
Yang masih dibutuhkan manusia zaman ini.


- Memandang Jilboob –
“Setelah pandanganku beralih ketubuhnya,
Mataku memerah dan kepalaku bertanduk”.

- IS(ibl)IS -
Iblis kesurupan mereka.

- Membela Yang Dzolim –
“Baguslah, jika kau nasehati dia”,
Ketus temanku yang terdzolimi.

- Salah Siapa? –
“BBM naik?”, “Bukan Salahku!”,
“Bukan aku juga!!”, seraya mereka saling beradu jari telunjuk.

- Macet –
Aku menua di jalan raya.

- Mengaji Digital –
“Gurumu ngajimu siapa?”,
“Ustad yang ada di google”. Jawabnya polos.

- Kurang Adab –
Huruf-huruf besar kapital mengekor namanya,
“Dia mentri, tapi korupsi"

- Lagi-lagi Dia –
“Pendapatku tersebar di mata publik,
Lantas tiba-tiba aku menjadi seorang kriminal”.
“AKU PEMANCING EMOSI WARGA INI!”, seru setan.

Sabtu, 26 Juli 2014

Fiksi Mini #25

- Ramadan Bulan Kampanye –
“Pak, kalender bulan ini tanggalnya kok penuh dengan kurungan?”
“Iya Nduk, Bapak banyak jadwal”,
jawab si bapak yang berperan sebagai provokator politik.

- Baju Baru, Innaalillah –
Dengan ceria gadis kecil itu memakai baju baru yang dibelikan oleh ayahnya,
Lantas kemudian sebuah rudal jatuh di rumahnya,
“Innaalillah!”, sorak beberapa tetangganya.


- Satu Orang Lagi –
Kesedihan tampak dari raut wajah Pak Herman,
Yang dari tadi hanya memandang foto capres di balik layar ponselnya.
“Aku sudah meminta maaf kepada semuanya, kecuali kepada beliau”, ujarnya.

- Merasa Puasa –
“Aku tidak makan dan minum kok”,
“Tapi mulutmu mengunyah aib sedangkan matamu melihat aurat orang”,
 “Ah! Itu hakku”ketusnya . geleng-geleng kepala temannya mengakhiri pembicaraan tersebut.

- Sensasi Religi –
Tiba-tiba semua ibu-ibu tetangga mencela TV,
Katanya karena wanita yang ada di dalam TV buka tutup jilbab.

- Hadiah Dari Tuhan –
“Jangan jadikan perjalanan jauh untuk tidak puasa”,
“Dawuh kyai, ifthornya musafir itu hadiah dari Tuhan”.
Jawaban itu ia renungi dan perlahan-lahan basmalah mengawali ifthor perjalannannya.

- Mulut Seorang Muslimkah? –
“JANC*K! ANJ*NG! T*I! KAU ISR*EL!”
Umpatan itu menggetarkan gendang telinga seorang kristiani di dekatnya.
“Masnya orang muslim?”, spontan pertanyaan itu membuatnya bisu.

- Bantuan Udin –
“Udin tadi kok ngomong sendiri, kenapa?”,
 Anak kecil itu tidak menjawab,
ia terdiam berharap Tuhan mengabulkan doa kecilnya untuk palestina.


- Maaf –
“Maafkan jika tulisanku keliru atau bahkan menyakitkan kalbu”,
“Maafkan juga atas kesalahan-kesalahanku”,
aku berbicara kepadamu.

~ Minal Aidzin Wal Fai’idzin ~

 

Jumat, 27 Juni 2014

Fiksi Mini #24

- Sibuk Dengan Aib –
Pak Rohim menikmati bacaan berita tentang aib salah satu Capres,
sedangkan Pak Dana asyik mendengarkannya setiap hari dari Pak Rohim.

-  Nomor 1 atau 2? –
Lantas istriku bertanya kepadaku,
“Aba... masyarakat pada tanya, Nyai pilih nomor berapa?”
“Jawab saja, kalau gak nomor 1 ya paling nomor 2”.

- Putus! –
“Padahal dari dulu mereka saling bertetangga dengan baik”,
“Iya, denger-denger karena beda Pilpres mereka tidak akur”.
Dialog penjual sayur keliling dengan pembuang sampah.

- TVku Sedang Puasa –
“Pak Ji, tumben sore gini gak nonton berita politik”,
“TVku nunggu adzan maghrib dari tadi sahur Mat”.

- Puasa Penuh –
“Siapa yang puasanya penuh ini?”,
“SAYA USTAD!” serontak semua,
kecuali Ikmal,
“SAYA TIDAK!, karena ramadan belum selesai ustad”.

- Ngabuburit? –
ADZAN KURANG 2 MENIT!,
Dengan segera ia beranjak pulang
dari kawasan jalanan yang dipenuhi remaja dini.

- Musim Ustad Gadungan –
  Ia hafal terjemahan hadist & ayat al-qur’an,
Kemudian berangkat...
“Bismillah, musim honor tinggi!”.

- Sssst! –
“jangan berisik, ia puasa sekarang lagi tidur!”
“Bukan kucingkan?”.

- Bau Kata Mulut –
Aini malah berpindah tempat seraya menutup telinganya,
“Toh, padahal yang bau itu mulut Siska yang sedang berpuasa”.

- Fashion Styling –
“Beli jilbab dan gamis terbaru hanya dipakai untuk bulan ramadan saja”,
“Ooh... mode fashion styling to”, celetuh kaum sosialita.